FARMASI - INDONESIA
DUNIA BISNIS FARMASI DAN KESEHATAN DI INDONESIA

jejaring sosial dan bisnis kesehatan

Bagi pengguna internet, jejaring sosial seperti facebook atau twitter merupakan barang wajib. Tanpa menjadi member, rasanya kita seperti terlepas dari jaringan perkawanan alias "nggak gaul". Begitu besarnya pengaruh jejaring sosial sehingga menjadi ikon penting dalam dekade ini. Bukan cuma Presiden Obama yang "dimenangkan" oleh besarnya jaringan manusia di dunia maya. Bisnis kesehatan ternyata tak luput dari hingar bingar jejaring sosial internet. Business Week Indonesia (Desember 2008) menulis dalam salah satu artikelnya tentang kehebatan beberapa jejaring sosial di internet sehingga diperkirakan dapat mengubah cara meriset penyakit serta proses pengembangan obat-obatan. Hal ini tentunya berpengaruh juga pada bisnis kesehatan secara keseluruhan.

Bagaimana ini semua bisa terjadi? Inilah fakta menarik itu. Bayangkan bila begitu banyak pasien di seluruh dunia berkumpul dalam satu forum diskusi (di dunia maya tentunya), lalu mereka saling curhat tentang penyakitnya. Maka yang terjadi adalah sang moderator forum bisa mengumpulkan data lengkap tentang satu penyakit dalam waktu singkat (dibandingkan dengan riset yang memerlukan waktu bertahun-tahun). Tapi, apakah datanya akurat? Memang ini masih jadi kendala. Sejauh ini, para pasien atau mantan pasien menceritakan sejarah penyakitnya dengan sangat mendetail. Tak hanya penyakit, mereka juga berbagi informasi tentang dokter, rumah sakit, asuransi kesehatan, jenis obat-obatan, peralatan kesehatan, dan lain-lain. Bahkan pemiliki situs (misalnya PatientsLikeMe di Amerika) telah menerbitkan buku-buku (dengan menghilangkan identitas, merek, dan lainnya) tanpa harus mengumpulkan data terlebih dahulu.Namun, lembaga-lembaga kesehatan resmi masih belum mau menerbitkannya sebab dianggap data tersebut tidak ilmiah. Wah, padahal ini fakta yang terjadi di masyarakat, lho!

Pasien-pasien yang saling bercerita ini barangkali merasa lebih nyaman berbagi dengan sesama penderita daripada dengan dokter yang kadang-kadang kurang bisa berempati dengan pasien. Bagi industri kesehatan, meskipun jejaring sosial belum "berbau" ilmiah, sebaiknya jangan pula dianggap tidak penting. Sebab justru dari situlah produsen bisa mengetahui respon konsumen dari berbagai kalangan. Kalau memang datanya tidak ilmiah, barangkali jutaan data tadi perlu diteliti ulang sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan berguna bagi masyarakat.
0 komentar:

Posting Komentar

Blog ini berisi artikel-artikel tentang dunia Farmasi di Indonesia dan berita-berita kesehatan.


kategori