Industri farmasi sangatlah dinamis, selalu berinovasi dan senantiasa memperbarui. Strategi yang ideal untuk karakter bisnis seperti ini memang tidak bisa disamaratakan seperti jenis industri lain. Strategi yang dulu pernah berhasil belum tentu sesuai untuk kondisi saat ini. Bahkan bagi sesama industri barangkali punya strategi khusus. Yang ideal menurut satu perusahaan farmasi belum tentu cocok untuk perusahaan farmasi yang lain. Oleh sebab itu, setiap perusahaan hendaknya selalu meng-update diri dan rajin mencari cara-cara baru untuk mengelola usaha mereka. Para ahli industri farmasi sedunia menulis "SAP for Life Science in The Pharmaceutical Industry: Strategy for Success". Berikut adalah ringkasan dari tulisan tersebut.
1. Mengurangi Resiko-resiko-gunakan teknologi sebagai bisnis inti dan mengintegrasikan informasi untuk mengecilkan resiko kesalahan (misalnya pada urusan administrasi) dan meminimalkan waktu-waktu yang terbuang
-meningkatkan penjualan dan mind-share: analisis segmentasi pasar, tingkatkan self service pelanggan, jaga hubungan dengan para dokter.
2. Mengefisiensikan Proses-hilangkan bagian-bagian dalam organisasi yang kurang efektif agar proses kerja dapat lebih efisien
-terapkan business intelegence untuk mengefisiensikan operasional penjualan
-outsourcing untuk kegiatan non-inti sehingga perusahaan bisa berkonsentrasi pada kegiatan inti.
3. Transformasi Bisnis-perbaiki kemampuan kolaborasi untuk mengembangkan pasar yang baru
-gunakan teknologi informasi untuk mendukung organisasi riset
-gunakan RFID (radio frequency identification) untuk mengintegrasikan sistem-sistem dan berbagi informasi secara global
Semua strategi di atas umumnya telah berbasis teknologi dengan akses informasi yang mudah. Namun, pada dasarnya berisi solusi untuk menghadapi kompleksnya regulasi, efisiensi biaya, dan peningkatkan produktivitas. Nah, pertanyaannya kini sudah siapkah pelaku industri farmasi di Indonesia untuk menerapkannya?
Posting Komentar