Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan masker N95 tidak cocok untuk mengatasi kabut asap, sebab memiliki pori-pori yang sangat kecil. Pori-pori kecil ini malah berpotensi bisa tersumbat karena partikel polutan asap yang besar (2,5 mikron). Hal ini justru membahayakan karena partikel bisa menyumbat masker dan menghambat pernapasan. Nila Moeloek telah berkoordinasi dengan ahli paru-paru untuk menjelaskan hal ini kepada masyarakat. Kementrian Kesehatan juga telah mengirimkan masker yang standar yang dinilai lebih tepat untuk mengatasi kabut asap.
Masker N95 biasa dipakai untuk menangkal polutan yang berpartikel sangat kecil, misalnya virus, yang berukuran 0,1 hingga 0,3 mikron. Disebut N95 karena mampu menyaring hingga 95% dari partikel yang ada di udara. Biasa digunakan bagi mereka yang beresiko terpapar oleh infeksi dan penyakit menular, seperti tenaga medis atau pekerja di peternakan.
Bagi mereka yang memiliki kelemahan dalam bernapas, penggunaan masker jenis ini tidak disarankan karena akan mengurangi volume udara yang dihirup. Jika Anda mengalami ketidaknyamanan, lelah, dan sakit kepala, hentikan penggunaan masker ini. Agar efektif, masker juga harus pas dan rapat dengan wajah pemakai. Masker N95 merupakan masker yang digunakan satu kali, jadi jangan dipakai berulang-ulang.
Posting Komentar