Bisnis ritel farmasi di Indonesia mesti segera menata diri agar mampu melepaskan diri dari kesulitan saat krisis, seperti saat ini. Para pelaku bisnis ritel farmasi adalah apotek dan toko obat, baik yang konvensional maupun modern. Kompetisi pada peritel level konvensional adalah sensitifnya masalah harga. Sementara peritel modern bersaing pada basis yang lebih kompleks, yakni dengan memasukkan banyak strategi bisnis dan meningkatkan pelayanan. Di masa krisis seperti sekarang, kompetisi berlangsung lebih keras. Naiknya harga obat bukan tidak mungkin menyebabkan beralihnya konsumen ke "level dua" yang mungkin menyediakan harga obat lebih masuk akal. Apalagi tren saat ini muncul obat-obatan alternatif, seperti jamu/herbal atau obat Cina yang banyak juga penggemarnya. Nah, kalau tidak hati-hati bisnis ritel farmasi bisa kehabisan nafas.
Dalam majalah Pharmabiz edisi 01/2009 terdapat artikel mengenai poin-poin dan kiat untuk memajukan bisnis ritel, khususnya di bidang farmasi. Di sini dijelaskan juga tentang apa saja yang harus diperhatikan pada situasi yang serba "mengencangkan ikat pinggang" ini. Salah satunya adalah memahami peraturan pemerintah dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Jangan sampai bisnis jadi rugi karena tak mengerti seluk-beluk aturan bisnis di Indonesia. Poin lain yang juga sangat penting adalah pengembangan IT untuk membantu memaksimalkan kinerja perusahaan. Jadi, sebaiknya tidak ada lagi pebisnis farmasi yang gaptek, alias gagap teknologi. Kiat-kiat lainnya masih banyak dan tinggal disesuaikan dengan bisnis masing-masing. Artikel lebih lengkap dapat dibaca di majalah Pharmabiz.
Posting Komentar